Tulisan sederhana ini berupaya menguraikan secara singkat Industrialisasi dan pengaruhnya terhadap pembagian kelas social. Diuraikan secara sederhana, agar mudah dimengerti.

Kapitalisme

Fenomena masyarakat kapitalisme telah lama menjadi sorotan. Kapitalisme merupakan proses di mana industrialisasi yang mendorong proses urbanisasi berlangsung di masyarakat.

Sosiolog awal seperti Durkheim memberi perhatian pada pembagian kerja (division of labour).

Saat itu, pembagian kerja berlangsung dalam hubungannya dengan tatanan sosial Durkheim memberi istilah sebagai solidaritas social (Fansuri, 2012).

Tentang solidaritas social

Solidaritas social sendiri menurut Hamidah (2011) dalam Saidang, Suparman (2019) menunjuk pada idiom semua untuk masing-masing dan masing untuk semua.

Bangsa Perancis mengaplikasikan terminologi solidaritas pada keharmonisan sosial, persatuan nasional dan kelas dalam masyarakat.

Solidaritas sosial menunjuk satu keadaan hubungan antara individu dengan kelompok masyarakat.

Dasarnya adalah moral dan kepercayaan yang dianut bersama, diperkuat oleh pengalaman bersama.

Durkheim menjelaskan bahwa solidaritas adalah keadaan saling percaya antar anggota dalam suatu komunitas.

Kalau orang saling percaya mereka akan menjalin persahabatan, saling menghormati. Solidaritas yang terbentuk menyebabkan masing masing individu kelompok bertanggung jawab dan memperhatikan kepentingan bersama.

Dasar solidaritas

Saidang, Suparman (2019) menjelaskan dasar solidaritas bervariasi. Dalam masyarakat sederhana berbasis pada nilai-nilai kekerabatan dan berbagi.

Dalam masyarakat yang lebih kompleks terdapat berbagai teori mengenai apa yang memberikan kontribusi rasa solidaritas sosial.

Kelompok sosial (social group) adalah kesatuan manusia yang hidup bersama. Hubungan ini menyangkut kaitan timbal balik yang saling mempengaruhi.

Hubungan ini juga menyangkut kesadaran saling menolong, dan kesadaran saling membutuhkan satu sama lain.

Pembentukan kelompok diawali dengan adanya perasaan atau persepsi yang sama dalam memenuhi kebutuhan.

Setelah itu timbul motivasi untuk memenuhinya, ditentukan tujuan yang sama, akhirnya interaksi yang terjadi akan membentuk sebuah kelompok.

Pembentukan kelompok sosial

Pada dasarnya, pembentukan kelompok dapat diawali dengan adanya persepsi, perasaan atau motivasi, dan tujuan yang sama dalam memenuhi kebutuhannya.

Kita sebagai makhluk sosial tidak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Salah satu bentuk kerja sama kita dengan orang lain yaitu dengan membentuk kelompok sosial.

Dalam sebuah kelompok sosial dapat membantu mempermudah menyelesaikan menyelesaikan suatu urusan, tugas atau tujuan dengan cara bekerja sama.

Tipe solidaritas sosial

Fansuri (2012) menjelaskan bahwa Durkheim dikenal membagi tipe solidaritas sosial dalam masyarakat menjadi dua.

Pertama, solidaritas mekanik yaitu adanya ikatan yang didorong oleh faktor emosional, kekeluargaan, kepercayaan serta kesepakatan.

Pembentukan tersebut terutama dalam urusan moral pada masing-masing anggota masyarakat dengan tingkat pembagian kerja yang rendah.

Sifat-sifat individualistik dan perbedaan dalam masyarakat itu, dirasakan tidak cocok dan oleh karenanya diupayakan untuk sedapat mungkin dihindari.

Kedua, solidaritas organik yang berkebalikan dari solidaritas mekanik, karena ia lahir pada masyarakat dengan tingkat pembagian kerja tinggi.

Solidaritas organik terbentuk, di mana ikatan emosional menjadi tidak relevan. Biasanya disebabkan oleh perbedaan yang terjadi, terutama berdasar pada kemampuan individu

Fansuri (2012) Pembagian tipikal masyarakat berdasarkan pembagian kerja yang membentuk solidaritas sosial tersebut pada akhirnya menunjukkan gejala-gejala sosial yang lahir dari perkembangan lanjut kapitalisme (late capitalism) melalui industrialisasi.

Konsep Industrialisasi

Industrialisasi sendiri berasal dari kata industri yang berarti kegiatan memproses atau mengolah barang dengan menggunakan sarana dan peralatan, melalui mesin (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Industrialisasi adalah proses perubahan sosial ekonomi yang mengubah sistem pencaharian masyarakat agraris (pertanian) menjadi masyarakat industri.

Industrialisasi bisa diartikan suatu keadaan dimana masyarakat lebih berfokus pada ekonomi yang meliputi pekerjaan yang semakin beragam (spesialisasi), gaji, dan penghasilan yang semakin tinggi.

Perubahan filosofi hidup dalam industrialisasi

Dalam Industrialisasi ada perubahan filosofi manusia dimana manusia mengubah pandangan lingkungan sosialnya menjadi lebih kepada rasionalitas.

Tindakan didasarkan atas pertimbangan, efisiensi, dan perhitungan.
Filosofi manusia tidak lagi mengacu kepada moral, emosi, kebiasaan atau tradisi).

Menurut para peniliti industrialisasi pada masyarakat berarti adanya pergantian teknik produksi dari cara yang tradisional ke cara modern.

Industrialisasi juga diartikan sebagai transformasi yaitu perubahan masyarakat dalam segala segi kehidupan.

Dalam bidang ekonomi, industrialisasi berarti munculnya kompleks industri yang besar.

Produksi barang-barang konsumsi dan barang-barang sarana produksi, diusahakan secara massal (Darmawan, 1986).

Late capitalism melalui industrialisasi

Perkembangan lanjut kapitalisme (late capitalism) melalui industrialisasi menyebabkan terciptanya heterogenitas dalam masyarakat.

Kecenderungan ini tampak pada masyarakat perkotaan yang menjadi ruang bagi pertumbuhan industri.

Pada masyarakat perkotaan sendiri, sifat kebebasan individu lebih ditonjolkan. Dengan demikian, itu ikatan-ikatan emosional pun menjadi lepas.

Masing-masing orang lebih dihargai berdasar pada kemampuan serta bagaimana ia menjadi fungsional dalam kerja yang menuntut efisiensi dan efektifitas (Fansuri, 2012).

Kemajemukan dalam masyarakat industri di era kapitalisme modern kemudian menggiring terbentuknya kelas-kelas sosial yang didasari oleh faktor ekonomi.

Pembagian kelas sosial

Sebelumnya, Aristoteles misalnya, membagi kelas sosial dalam masyarakat secara ekonomi menjadi golongan sangat kaya, kaya, dan miskin.

Golongan pertama merupakan kelompok terkecil dalam masyarakat, terdiri dari pengusaha, tuan tanah dan bangsawan.

Golongan kedua cukup banyak terdapat di dalam masyarakat, terdiri dari para pedagang, dan sebagainya.

Golongan ketiga merupakan golongan paling banyak dalam masyarakat yakni rakyat biasa (Fansuri, 2012).

Karl Marx membagi kelas sosial dalam masyarakat menjadi tiga. Pembagian tersebut meliputi ; kelas borjuis-kapitalis yang merepresentasikan pemilik modal dan pemilik alat-alat produksi.

Kelas menengah yang diisi oleh pegawai-pegawai pemerintahan, serta kelas proletar yang dihuni oleh para buruh-buruh pabrik (Fansuri (2012).

Daftar pustaka

  1. A Dharmawan, Aspek-Aspek dalam Sosiologi Industri, Bandung; Binacipta, 1986, Hal 18
  2. Hamzah Fansuri. 2012. Globalisasi, Postmodernisme Dan Tantangan Kekinian Sosiologi Indonesia. Jurnal : Jurnal Sosiologi Islam, Vol. 2, No.1, April 2012 ISSN: 2089-0192
  3. Saidang, Suparman (2019). Pola Pembentukan Solidaritas Sosial dalam Kelompok Sosial Antara Pelajar. Jurnal : Edumaspul: Jurnal Pendidikan Vol 3, No. 2 (2019); 122-126
  4. Ismawati, Esti. (2012). Ilmu Sosial Budaya dasar: Jogyakarta: Ombak

Samsul Arifin

Menyukai riset, statistik dan metodologi penelitian ilmiah Konsultan akademis untuk penelitian ilmiah (pendidikan,ekonomi,kesehatan dll) Aktif di PC Lakpesdam NU Kab. Mojokerto Biro penelitian, advokasi dan pemberdayaan SDM WA : 081939824558